keyblade cursor

Keyblade

Rabu, 27 Agustus 2014

Bacaan Injil, Rabu 27 Agustus 2014: Luk 7:11-17

Luk 7:11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.

Luk 7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.

Luk 7:13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"

Luk 7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"

Luk 7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.

Luk 7:16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."

Luk 7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Sabtu, 23 Agustus 2014

Bacaan Injil, Sabtu 23 Agustus 2014: Mat 23:1-12

Mat 23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

Mat 23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Mat 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mat 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Mat 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

Mat 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

Mat 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Mat 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Mat 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Mat 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Mat 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Rabu, 20 Agustus 2014

Pesta Santo Santa, 20 Agustus 2014

Santo Bernardus, Abbas dan Pujangga Gereja
Bernardus dari Claivaux (=lembah Hening) lahir pada tahun 1090, dekat Dijon, Perancis. Putera dari Tescelin Sorrel dan Aleth Montbard ini digelari Pujangga Gereja dan dikenal juga sebagai Bapa Gereja Terakhir. Sepeninggal ibunya, Bernardus menjalani satu gaya hidup tak beraturan selama beberapa tahun. Tetapi ia kemudian membaharui cara hidupnya dan bersama beberapa orang temannya masuk biara pertapaan Citeaux yang dipimpin oleh Santo Stefanus Harding. Keputusannya untuk memasuki hidup membiara ini ditentang keras oleh ayah dan kedua kakaknya. Meskipun demikian Bernardus tetap teguh pada pendiriannya. Kepada ayah dan saudara-saudara dan iparnya, ia menjelaskan hasrat hatinya dengan segala alasan yang mendorong dia mengambil keputusan itu. Penjelasannya ini berhasil meyakinkan ayah dan saudara-saudaranya, dan beberapa orang temannya, hingga mereka pun ikut bersamanya memasuki biara pertapaan itu.
Di bawah bimbingan Abbas Santo Stefanus, Bernardus mempelajari Kitab Suci dan giat menulis banyak buku. Kemahirannya dalam bahasa Latin sangat membantu dia di dalam menerangkan dengan jitu makna Sabda Allah bagi hidup manusia. Karena kepandaiannya dan kesalehan hidupnya, ia ditugaskan mendirikan sebuah biara pertapaan baru. Bersama 12 orang rekannya, Bernardus berangkat ke sebuah lembah yang disebut Claivaux. Disana ia mendirikan pertapaan yang lazim disebut Pertapaan Claivaux. Di bawah kepemimpinannya, biara ini berkembang pesat dan sangat masyur di seluruh Eropa. Ada sekitar 70 buah biara baru didirikan selama masa hidupnya. Di mana-mana di seluruh Eropa terdapat banyak biarawan asuhan Bernardus, sehingga Bernardus disebut juga sebagai pendiri kedua Ordo Sistersian setelah Santo Stefanus Harding.
Bernardus sendiri dikenal luas sebagai seorang pewarta, pembawa damai dan penegak kebenara. Ia dengan gigih membela hak Paus Innosensius II (1130-1143) melawan rongrongan Paus tandingan Anakletus pada 1130, menentang pandangan-pandangan salah dari Petrus Abelard III (1145-1153) bekas asuhannya di pertapaan Claivaux. Bernardus diutus ke Jerman dan Prancis untuk berkhotbah menentang ajaran sesat Albigensia. Khotbah-khotbahnya sangat berpengaruh dan tulisan-tulisannya mengilhami mistisisme Abad Pertengahan. Ia meninggal dunia pada tahun 1153; dinyatakan ‘kudus’ pada tahun 1174 dan diakui sebagai Pujangga Gereja, bahkan Bapa Gereja terakhir pada tahun 1830. 
Samuel, Imam dan Hakim Israel
Samuel dikenal sebagai hakim terakhir dalam masa Perjanjian Lama. Ia memimpin Israel sebagai imam dan hakim dari tahun 1200 sampai 1020 sebelum masehi. Kisah hidupnya diceritakan dalam Kitab Pertama Samuel. Samuel adalah anak pemberian Tuhan sebagai jawaban atas doa yang tulus dari Hana ibunya yang mandul selama bertahun-tahun. Ketika berdoa di Kenisah Allah di Silo, Hana berjanji bahwa apabila Tuhan menganugerahi dia seorang anak laki-laki, ia akan mempersembahkan anak itu kepada Tuhan dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya (1Sam1:11).
Ketika Hana melahirkan, ia menamakan anaknya Samuel yang berarti ‘diminta dari Tuhan’, seusai dengan janjinya kepada Tuhan, Hana mempersembahkan Samuel kepada Tuhan untuk melayani Dia di kenisah Silo. Sebagai ucapan syukur, Hana menyanyikan sebuah lagu pujian untuk Tuhan (1Sam2:110); lagu pujian ini berabad-abad kemudian bergaung dengan sangat indah dalam Magnificat Maria (Luk1:4655). Di Silo, Samuel berada dalam penjagaan Eli (1Sam2:28), Eli dan keluarganya dipilih Allah menjadi hambaNya untuk melayani Allah dan membawa persembahan kepadaNya. Tetapi anak-anak Eli tidak menghormati jabatan imamat yang dipercayakan Allah kepada mereka. Oleh karena itu, Tuhan memanggil Samuel dan mengatakan kepadanya bahwa ia akan menghancurkan rumah Eli (1Sam 3:1014). Tuhan mencintai Samuel dan menyertai dia, dan orang-orang Israel tahu bahwa Samuel adalah seorang nabi yang diutus Allah kepada mereka (1Sam 3:19).
Tindakan pertama Samuel sebagai Nabi Allah ialah menghimbau seluruh umat Israel agar kembali membaharui janji mereka dengan Yahweh (1Sam 7:3). Orang-orang Israel telah ditaklukkan oleh bangsa Filistin; tabut perjanjian sebagai tanda kehadiran Allah di antara mereka pun direbut. Tetapi Tuhan menyiksa bangsa Filistin; karena perbuatan mereka sehingga mereka mengembalikan tabut perjanjian itu kepada bangsa Israel. Pada saat itulah, Samuel menghimbau pembaharuan perjanjian dengan Yahweh, demi keselamatan mereka dari cengkraman Filistin (1Sam 7:10-14). Pertentangan diantara umat tentang hal pembangunan sebuah kerajaan mencapai puncaknya pada masa Samuel. Setelah beberapa tahun memimpin Israel sebagai imam dan hakim, Samuel mengurapi anak-anaknya untuk menggantikan dia. Meski demikian mereka tidak pantas menjadi hakim atas Israel. Oleh karena itu orang Israel meminta Samuel mengurapi seorang raja bagi mereka.
Permintaan ini ditentang oleh Samuel yang tetap menghormati Yahweh sebagai satu-satunya Raja Israel (1Sam 8; 10:17-19; 12). Namun umat Israel bersikeras menuntut seorang raja agar mereka sama dengan bangsa-bangsa lain (1Sam 8:20). Akhirnya Samuel mengurapi Saul sebagai raja Israel pertama pada tahun 1020 (1Sam 10:18). Sambil memperingatkan umat sekali lagi agar ‘takut akan Allah dan melayani Dia dalam kebenaran dan dengan segenap hati’, Samuel meletakkan jabatannya sebagai hakim Israel (1Sam 12).
Saul diperintahkan untuk menyerang dan menghancurkan bangsa Amalek, musuh utama Israel. Namun Saul enggan bahkan tidak menaati perintah Tuhan itu. Memang ia menyerang bangsa Amelek, namun ia hanya menumpas rakyat jelata dengan pedang dan ternak yang dilihatnya tidak berharga; sedangkan Agag, raja orang Amelek dan kambing-domba serta lembunya yang tambun diselamatnya (1Sam 15:19). Oleh karena itu Tuhan kesal padanya dan segera mengutus Samuel untuk memberitahu Saul bahwa ia tak akan lama menjadi raja atas Israel (1 Sam15:23). Hal ini berarti bahwa jabatan kerajaan tidak bisa diturunkan kepada puteranya Yonathan. Firman Tuhan itu akhirnya menjadi nyata. Sementara Saul masih hidup, Samuel mengurapi Daud, putera bungsu dari keluarga Isai atau Yesse untuk menggantikan Saul sebagai raja atas Israel (1Sam16:13). Saul marah dan bangkit menyerang Daud, tetapi Daud selamat di bawah perlindungan Samuel (1Sam19:18).
Ketika Samuel meninggal dunia, semua orang Israel berkumpul dan meratapi dia. Mereka menguburkan dia dalam rumahnya di Ramatha (1Sam 25:1).

Renungan Rabu, 20 Agustus 2014: Haus Kuasa

Dalam Perjanjian Lama, istilah gembala sering dikenakan pada mereka yang diberi kepercayaan memimpin umat, seperti raja, nabi, dan imam. Tugas gembala adalah mengasuh domba-domba, memberi makan, membimbing, mencari, dan membawa pulang yang hilang. Namun, tak jarang kepemimpinan diidentikkan dengan kekuasaan yang menekan, memanfaatkan dan memanipulasi pihak-pihak yang dipimpin.

Dalam sebuah kursus, seorang ibu bercerita, ia pernah meninggalkan Gereja selama beberapa tahun, tapi tak ada yang mencari, menyapa dan mengajak dia kembali. Ibu itu merasa seperti domba yang hilang, namun tak dicari. Mungkin tidak jarang kita mendengar, “Biar saja. Hilang satu tidak rugi apa-apa. Kan dombanya banyak dan bertambah terus setiap tahun melalui baptisan baru.”

Firman Allah hari ini amat tegas! Ia tak ingin mengecewakan umat yang menderita, karena perilaku gembala. Allah tampil melalui Mesias-Nya yang membawa kebahagiaan dan keselamatan dengan menjadi Gembala yang baik, melawan gembala-gembala yang jahat. Ia memerintah dan menggembalakan domba-domba-Nya dengan damai sejahtera. Berbahagialah gembala yang dikenal suaranya dan dicintai domba-domba.

Monica Maria Meifung

Bacaan Injil, Rabu 20 Agustus 2014: Mat 20:1-16

Mat 20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Mat 20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Mat 20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

Mat 20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

Mat 20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

Mat 20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

Mat 20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Mat 20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

Mat 20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Minggu, 10 Agustus 2014

Pesta Santo Santa, 10 Agustus 2014

Santo Laurensius, Martir
Laurensius termasuk salah satu dari ketujuh diakon agung yang bekerja membantu Sri Paus di Roma. Oleh Paus Sixtus II (257-258), Laurensius ditugaskan mengurus harta kekayaan Gereja dan membagi-bagikan derma kepada para fakir miskin di seluruh kota Roma. Ia juga melayani Sri Paus dalam setiap upacara keagamaan. Ketika Sri Paus Sixtus II ditangkap oleh serdadu-serdadu Romawi, Laurensius bertekad menemani dia sampai kematiannya. Kepada Paus, ia berkata: "Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya." Sixtus terharu mendengar kata-kata Laurensius itu. Lalu ia berkata: "Janganlah sedih dan menangis, anakku! Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi".
Ramalan Sixtus itu ternyata benar-benar terjadi. Prefek kota Roma, yang tahu bahwa Gereja mempunyai sejumlah besar kekayaan, mendapat laporan bahwa Laurensius-lah yang mengurus semua kekayaan itu. Karena itu, Laurensius dihadapkan kepada penguasa Roma itu. Laurensius dibujuk agar secepatnya menyerahkan semua kekayaan Gereja itu kepada penguasa Roma. Dengan tenang Laurensius menjawab: "Baiklah, tuan! Dalam waktu tiga hari akan kuserahkan semua kekayaan ini kepadamu". Laurensius dibiarkan kembali ke kediamannya.
Ia segera mengumpulkan orang-orang miskin dan membagi-bagikan kekayaan Gereja kepada mereka. Di bawah pimpinannya, orang-orang miskin itu berarak menuju kediaman Prefek Roma. Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: "Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga. Terimalah dan periharalah mereka dengan sebaik-baiknya."
Tindakan dan kata-kata Laurensius ini dianggap sebagai suatu olokan dan penghinaan terhadap penguasa Roma. Karena itu, ia ditangkap dan dipanggang hidup-hidup di atas terali besi yang panas membara. Laurensius tidak gentar sedikitpun menghadapi hukuman ini. Setelah separuh badannya bagian bawah hangus terbakar, ia meminta supaya badannya dibalik sehingga seluruhnya bisa hangus terbakar. "Sebelah bawah sudah hangus, baliklah badanku agar seluruhnya hangus!" katanya dengan sinis kepada para algojo yang menyiksanya. Laurensius akhirnya menghembuskan nafasnya di atas pemanggangan itu sebagai sekorang ksatria Kristus.
Kisah kemartirannya kita ketahui dari tulisan-tulisan Santo Agustinus. Di sana dikatakan bahwa orang-orang yang berdoa dengan perantaraan Laurensius terkabul doanya. "Karunia-karunia kecil diberikan kepada orang-orang yang berdoa dengan perantaraan Laurensius supaya mereka terdorong untuk memohon karunia yang lebih besar, yaitu cinta kasih kepada sesama dan kesetiaan kepada Kristus" demikian kata Santo Agustinus dalam salah satu tulisannya.

Renungan Minggu 10 Agustus 2014: Kepasrahan Bunda Maria

Ia diangkat dan dipermuliakan di surga karena kepasrahan dan pembaktian hidup seutuhnya pada kehendak dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus, lewat dirinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan pada Allah.

Kesalehan dan kepasrahan Bunda Maria di hadapan Tuhan dikenal banyak orang. Pada peristiwa Kabar Gembira, Maria bernazar pada Malaikat: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Mungkin waktu itu hatinya berbunga-bunga dan kagum akan keajaiban peristiwa yang akan terjadi, seturut kata- kata Malaikat Gabriel. Dengan ungkapan itu, Maria menyatakan ketaqwaan terdalamnya pada Tuhan.

Hati Maria pun diselimuti keheranan. Tiap kali rasa heran singgah, ia selalu berucap: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”. Ada tujuh keheranan Maria.
Pertama, tatkala ia telah mengandung tua dan harus pergi ke Bethlehem untuk cacah jiwa bersama Yosef. Lelah dalam perjalanan jauh dengan keledai, mereka bahkan tak menemukan penginapan, kecuali kandang ternak dan palungan. Ia berkata dalam hati: “Mengapa harus begini?” Namun setelah Tiga Raja bersujud sembah pada Anaknya, spontan ia berucap: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Kedua, saat Yosef mendapat bisikan Tuhan untuk mengungsi ke Mesir, menyelamatkan Anaknya dari kebengisan Herodes. Setelah perjalanan jauh bersama para pedagang dan khalifah, akhirnya mereka menumpang dalam satu rumah, dekat sungai Nil. Suatu sore, Maria spontan berkata di beranda rumahnya: “Yang seperti ini belum pernah kubayangkan”.

Ketiga, sewaktu perkawinan di Kana. Tuan rumah sangat terperanjat, sebab terancam rasa malu karena kehabisan anggur. Maria menyuruh Yesus mengubah air menjadi anggur. Tiba-tiba hal itu terjadi dan membuatnya tercengang. Sambil menggelengkan kepala, ia berkata: “Yang seperti ini, tak pernah kubayangkan”.

Keempat, ketika Yesus dihukum mati dan dipaksa memanggul salib ke Gunung Golgota: Yesus dihina bermahkota duri; Ia terjatuh dan dicambuk. Ia didera dan dipermalukan di depan khalayak. Hati Sang Bunda teriris kepedihan tak terperikan. Timbul dalam hatinya: “Yang seperti ini, tak pernah kubayangkan”.

Kelima, pada peristiwa Paskah. Maria telah menghantar jenazah Putranya ke makam milik Yosef dari Arimatea. Tiba-tiba terdengar berita Yesus bangkit. Akhirnya ia pun bertemu dengan Yesus hatinya: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Keenam, ketika para murid kebingungan dan ketakutan di Yerusalem. Sesudah Yesus naik ke surga, Ia menyuruh para murid berkumpul di Yerusalem menantikan turunnya Roh Kudus. Maria pun berada bersama mereka. Mereka ketakutan terhadap orang Yahudi. Mereka menutup pintu rapat-rapat. Mereka berbisik- bisik, sebab takut orang Yahudi mendengarnya. Kecemasan melingkupi hati mereka. Namun kala Roh Kudus turun atas mereka, semuanya berubah. Mereka sangat bersemangat. Mereka menjadi berani, bahkan naik ke sotoh rumah. Mereka menegur orang Yahudi dan mengatakan bahwa orang Yahudi bersalah karena membunuh Yesus yang tak bersalah. Mereka memerintahkan orang Yahudi bertobat. Hari itu, lebih dari 3.000 orang dibaptis. Maria berkata: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Ketujuh, peristiwa di surga, seturut Kitab Wahyu. Maria dipermuliakan dan dijadikan Ratu Surgawi. Para malaikat dan orang kudus takzim di hadapannya. “Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Why 12:1). Terkesima, Maria lalu berkata: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Demikianlah kisah hidup Bunda Maria. Ia diangkat dan dipermuliakan di surga karena kepasrahan dan pembaktian hidup seutuhnya pada kehendak dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus, lewat dirinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan pada Allah.

Jika kita melihat dalam kacamata manusiawi, hidup Maria tak terlalu beruntung. Ia bahkan harus memeluk jenazah Putranya yang rusak dalam pangkuannya sendiri. Betapa hancur hatinya. Namun dalam kepasrahan pada Allah, semua berakhir pada kebahagiaan abadi: berbahagia di surga. Kita pun dapat dan patut meng’ ikuti teladan Bunda Maria ini..

Mgr Anicetus Bongsu Antonius 
Sinaga OFMCap
Uskup Agung Medan

Bacaan Injil, Minggu 10 Agustus 2014: Luk 1:39-56

Luk 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

Luk 1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

Luk 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

Luk 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Luk 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.

Luk 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

Luk 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,

Luk 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

Luk 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,

Luk 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

Luk 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Luk 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

Luk 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;

Luk 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Luk 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

Luk 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."

Luk 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Sabtu, 09 Agustus 2014

Pesta Santo Santa, Sabtu 9 Agustus 2014

Santo Oswaldus, Martir

Putera raja Northumbria ini mengungsi ke biara Hay setelah ayahnya gugur dalam suatu pemberontakan. Ia dibaptis dan beberapa waktu kemudian berhasil merebut kembali kerajaan, bahkan memperluasnya. Dengan bantuan Santo Aidan ia mengkristenkan rakyatnya. Oswaldus gugur dalam suatu serangan dari seorang raja kafir. Santo Oswin menggantikannya sebagai raja dan misionaris. Akan tetapi ia pun kemudian dibunuh oleh Raja Osway.

Info lengkap :
Oswald was the son of Ã†thelfrith of Bernicia and came to rule after spending a period in exile; after defeating the British ruler Cadwallon ap Cadfan, Oswald brought the two Northumbrian kingdoms of Bernicia and Deira once again under a single ruler, and promoted the spread of Christianity in Northumbria. He was given a strongly positive assessment by the historian Bede, writing a little less than a century after Oswald's death, who regarded Oswald as a saintly king; it is also Bede who is the main source for present-day historical knowledge of Oswald. After eight years of rule, in which he was the most powerful ruler in Britain, Oswald was killed in the Battle of Maserfield.

Renungan Sabtu, 09 Agustus 2014: Kecil tetapi Besar

Bacaan Injil hari ini seakan menjadi peneguhan terhadap pernyataan Yesus tentang penderitaan-Nya di Yerusalem. Yesus menantang kesetiaan para murid untuk mengikuti-Nya dan mewartakan Kerajaan Allah sampai akhir. Iman mereka pun diuji dengan peristiwa pengusiran setan. Para murid belum dapat mengusir setan karena mereka kurang percaya. Padahal, jika mereka memiliki iman sebesar biji sesawi saja, mereka dapat melakukan karya yang besar. Mengapa Yesus memilih biji sesawi sebagai takaran iman para murid? Biji sesawi ukurannya sangat kecil, tetapi jika disemai, biji itu akan segera tumbuh dengan kuat, besar, dan relatif lebih tahan kekeringan. Biji yang kecil itu juga menghasilkan manfaat yang besar.

Yesus bermaksud meyakinkan para murid bahwa mereka harus lebih percaya kepada Bapa-Nya. Mereka harus memiliki iman yang kuat dan teguh supaya dapat membawa banyak orang pada keselamatan. Iman kita pun seringkali diuji oleh berbagai tantangan dan kesulitan dalam hidup dan karya kita. Namun, Yesus ingin supaya kita tetap teguh. Hanya dengan setitik iman yang teguh disertai doa dan usaha terus-menerus, kita dapat memperoleh mukjizat sesuai dengan kehendak-Nya. Yesus meminta kita untuk percaya, selebihnya Ia yang akan menyempurnakan.

Theresia Vita Prodeita

Bacaan Injil, Sabtu 09 Agustus 2014: Mat 17:14-20

Mat 17:14 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah,

Mat 17:15 katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air.

Mat 17:16 Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya."

Mat 17:17 Maka kata Yesus: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"

Mat 17:18 Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga.

Mat 17:19 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?"

Mat 17:20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Jumat, 08 Agustus 2014

Selebriti Katolik di Korea Menciptakan Video Musik Menyambut Paus Fransiskus

Selebriti Katolik di Korea Menciptakan Video Musik Menyambut Paus Fransiskus
Rabu, 9 Juli 2014 
oleh Veroel Taole

Video musik ini dibuat oleh selebriti putera-puteri Gereja Katolik di Korea sebagai gerakan pendahuluan dalam rangka menyambut kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Korea bulan Agustus ini.


Beberapa di antara mereka yang ikut ambil bagian dalam rekaman ini adalah Kim Woo Bin (The Heirs), Kim Tae Hee (Iris), Kim Ha-neul (A Gentleman’s Dignity), dan penyanyi Bada. 

Nemu saat jalan-jalan di beranda Facebook nih keren bisa dinikmati hehehe :D

Soundtrack `Stand By Me Doraemon` Sedih, Resapi Maknanya di Sini

StandByMeDoraemon (1)
Sosok Doraemon yang dikenal sebagai robot kucing masa depan, telah memberi banyak inspirasi bagi seluruh anak-anak dan pecinta manga serta anime di seluruh dunia. Kini, karakter karya Fujiko F. Fujio itu akan muncul di layar lebar melalui film animasi 3D bertajuk Stand By Me Doraemon.
Kehadiran `Stand By Me Doraemon` di bioskop-biokop Jepang, tentunya menjadi harapan besar bagi para penggemar di negara lain, termasuk Indonesia untuk bisa menyaksikan serunya petualangan Doraemon bersamaNobitaShizukaGian, dan Suneo ketika menggunakan alat-alat canggih masa depan milik sang robot kucing itu.
Selain visualisasi dan cerita, salah satu hal yang juga diunggulkan dalam `Stand By Me Doraemon` adalahsoundtrack alias lagu temanya yang memiliki nuansa menyentuh. Berjudul Himawari no Yakusoku, penyanyi priaMotohiro Hata sukses membuat para penggemar Doraemon merasakan nuansa sedih di dalam lagunya.
StandByMeDoraemon (2)
`Himawari no Yakusoku` juga telah dibuatkan videoklipnya. Di situ terlihat Hata sedang bernyanyi dengan suara indahnya sambil membawa gitar dan duduk bersandar di sebuah tembok. Beberapa model yang ada, terlihat melayang di atas kebun bunga matahari.
Uniknya, terdapat sebuah pintu di tengah perkebunan yang seolah menggambarkan salah satu alat canggih Doraemon, Pintu ke Mana Saja (Dokodemo Door). Sosok dua orang tua lanjut usia menyiratkan kita akan perjalanan waktu yang menjadi salah satu kisah inti Doraemon.



Komentar Lirik Lagu di Jejaring Sosial
StandByMeDoraemon (3)
Perpaduan nada, suara, serta lirik lagu Himawari no Yakusoku sempat membuat para penggemar Doraemon yang cukup mengerti bahasa Jepang merasakan nuansa kesedihan.
Beberapa fans menuangkannya di situs YouTube dalam bahasa Inggris. Bahkan, akun Facebook Motohiro Hata di Indonesia, ‘Hata Motohiro – Indonesian Fans’ pun dipenuhi oleh pujian akan lagu ini.
Lagunya sedih, tambah liat nobitanya makin sedih,” ketik pengguna Facebook asal Indonesia berinisial MA melalui komentar di salah satu status. “Merinding dengernya, apalagi digabung sama film Doraemon bakalan tears jerking nih,” tambah pengguna berinisial RM.
Di YouTube, pujian diungkapkan dari pengguna seperti Tatzuar Amir yang mengetik, “Gosh, I’m crying…” Akun bernama Dale Aldrin Maniego juga mengungkapkan, “I just cried >.< I waited for this release for quite a long time.”
Makna Lirik Himawari no Yakusoku
StandByMeDoraemon (4)
`Himawari no Yakusoku` sendiri jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah Janji Bunga Matahari. Lirik yang terkandung di dalamnya mengandung makna cukup menyedihkan dan beberapa kali menyatakan luapan perasaan hati yang mengharukan.
Lirik lagu ini dibuka dengan sebuah pertanyaan dari seseorang karena orang yang disayanginya tiba-tiba menangis. Sang penyanyi merasa tangisan orang yang disayangnya tersebut itu disebabkan oleh dirinya, namun ia tidak mengerti apa penyebabnya.
Kemudian sang penyanyi turut berjanji akan selalu berada di sisi orang yang disayanginya untuk menghiburnya setiap saat. Sehingga jika ia pergi jauh, orang yang disayanginya itulah yang menjadi alasannya untuk pulang.
Lagu ini ditutup dengan bait yang berisi ungkapan sang penyanyi bahwa dirinya sudah menemukan makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Salah satu bait yang diulang dalam lagu ini memiliki arti ‘jalan lurus yang selembut dan sehangat bunga matahari’.
Stand By Me Doraemon
StandByMeDoraemon (2)
`Stand By Me Doraemon` mengisahkan perjuangan Nobita dalam melindungi Shizuka yang disayanginya. Film ini juga turut memperlihatkan alat-alat khas Doraemon seperti Baling-baling Bambu dan Pintu ke Mana saja. Rencananya, film tiga dimensi pertama Doraemon ini akan dirilis pada 8 Agustus 2014.
StandByMeDoraemon (1)
Doraemon pernah tayang di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di sini, anime tersebut mengudara sejak 1988 di salah satu televisi swasta. Versi manga Doraemon pertama kali terbit di Jepang sejak 1973.
Duo Fujiko Fujio (Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko) membuat Doraemon pada 1969. Dalam kisahnya, sang kucing robot Doraemon dikirim oleh anak laki-laki dari masa depan ke masa lalu untuk membantu kakeknya yang masih kecil bernama Nobita.
Doraemon, Nobita, serta anak-anak lain pun menangani masalah sehari-hari dan bahkan menjadi penyebabnya setelah alat-alat masa depan dari dalam kantong ajaib Doraemon dikeluarkan. Mereka lalu memulai petualangan antar ruang dan waktu.
Sumber : http://japanesestation.com/soundtrack-stand-doraemon-sedih-resapi-maknanya-di-sini/

Pesta Santo Santa, 8 Agustus 2014

Santo Dominikus, Pengaku Iman
Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol. Orangtuanya, Don Felix de Guzman dan Joana dari Aza dikenal sebagai bangsawan Kristen yang saleh dan taat agama. Joana ibunya kemudian dinyatakan Gereja sebagai 'beata'; kakaknya, Mannes dan Antonio mencurahkan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja sebagai imam; dua orang keponakannya menjadi imam dalam ordo religius yang didirikannya, Ordo Dominikan. Mannes dikemudian hari digelari 'beato' karena kesucian hidupnya dan pengabdiannya yang tulus kepada Tuhan dan Gereja.
Masa kecil dan mudanya ditandai dengan kesucian dan semangat belajar yang tinggi. Pendidikan awalnya ditangani langsung oleh pamannya yang sudah menjadi imam. Dominikus kemudian melanjutkan studinya ke sekolah Katedral Palencia. Pada umur 24 tahun ia masuk biara di Osma dan tak lama kemudian ditabhiskan menjadi imam. Karier imamatnya dimulai di Osma didukung oleh doa kontemplatif yang sungguh mendalam. Doa kontemplatif ini yang melahirkan cinta yang tulus kepada umatnya. Karya apostoliknya dimulai sejak tahun 1203 ketika aliran bidaah Albigensianisme melancarkan serangan terhadap kebenaran iman Gereja. Waktu itu, Dominikus bersama uskupnya, Diego d'Azevido sedang dalam perjalanan ke Denmark untuk melaksanakan suatu misi diplomatik bagi Raja Alfonso IX (1188-1230).
Albigensianisme, yang lahir pada awal abad ke-13 di kota Albi, Prancis Selatan ini, merongrong ajaran iman yang benar. Aliran ini mengajarkan bahwa segala yang jasmani itu jahat. Ajaran Gereja tentang Tritunggal MahaKudus, peristiwa penjelmaan dan Penebusan umat manusia dalam Pribadi Yesus Kristus diingkarinya; juga semua sakramen, ibadat dan apa saja yang merupakan ungkapan iman Gereja ditolak. Karena sangat fanatik, para penganut aliran sesat ini tanpa segan merusak gereja-gereja dan biara, menghancurkan gambar-gambar kudus dan salib. Segala hubungan antara Gereja dan Negara ditiadakan. Mereka sangat terampil dalam menyebarkan ajarannya sehingga menarik begitu banyak umat menjadi pengikut. Terdorong oleh desakan batin untuk memberantas pengaruh jahat aliran sesat ini, Dominikus mendapat ilham untuk mendirikan sebuah tarekat religius yang lebih memusatkan perhatian pada soal Pewartaan Sabda. Ordo religius Dominikus ini kemudian lazim dikenal dengan nama 'Ordo Praedicatorum' atau 'Ordo para Pengkhotbah'.
Pada pertengahan musim panas pada tahun 1206, seusai urusan diplomatik di Denmark dan kunjungan ke Roma, Dominikus bersama Uskup Diego kembali ke Spanyol. Di Montpellier, Prancis Selatan, mereka bertemu dengan para pengkhotbah utusan Paus yang mulai putus asa dalam mengemban tugas memberantas pengaruh ajaran aliran sesat Albigensianisme. Mereka berniat meninggalkan hidup biaranya karena gagal dalam tugas pewartaannya. Banyak faktor membuat mereka gagal: para bangsawan yang merupakan orang kepercayaan masyarakat sudah mengikuti aliran sesat itu; jumlah imam sangat sedikit dan tidak disiapkang dengan baik dalam hal cara mewartakan Injil, padahal para pewarta ajaran sesat itu sangat terampil dalam menyebarkan ajarannya; faktor kegagalan yang lain datang dari kalangan Uskup Prancis Selatan itu sendiri. Mereka acuh tak acuh terhadap bahaya yang menggoncang ajaran iman yang benar, dan lebih getol dalam hal-hal duniawi.
Menghadapi keputusasaan para utusan Paus, Uskup Diego dan Dominikus menasehati mereka untuk terus mewartakan Injil Kristus meskipun banyak rintangannya. Mereka dinasehati agar meniru teladan para Rasul dalam pewartaan Injil; memasuki pelosok-pelosok dengan berjalan kaki tanpa membawa uang dan makanan, dan bergaul rapat dengan rakyat yang sudah sesat. Diego dan Dominikus dengan setia menemani mereka dalam kegiatan pewartaan itu. Hasil yang dicapai cukup lumayan, meskipun masih ada juga kegagalan. Uskup Diego dan Dominikus serta Uskup Fulk dari Tolouse, Prancis Utara terus mendampingi para pewarta dalam perjuangan besar memberantas pengaruh jahat Albigensianisme.
Pada tahun 1214, Dominikus mendiskusikan bersama rekan-rekannya rencana mendirikan sebuah tarekat religius. Rencana ini didukung dan mulai dilaksanakan tahun berikutnya bersamaan dengan pemberian hadiah sebuah rumah besar oleh Petrus Seila dari Tolouse. Uskup Fulk memberi restunya.
Pandangan hidup yang dianut Ordo Dominikan, yang dikenal dengan nama 'Ordo Predicatorum' atau 'Ordo Pengkhotbah' ini merupakan sesuatu yang belum dikenal pada masa itu. Dominikus menggabungkan corak hidup kontemplatif dengan kehidupan aktif: mewartakan Injil di luar biara, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar dan lain-lain. Misinya sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang baru, karena pada masa itu hal pewartaan adalah tugas khas pada Uskup. Dengan kekhasan ini, Dominikus bermaksud memberikan Gereja suatu Ordo Religius Imam yang berbobot dan handal.
Restu atas berdirinya Ordo Dominikan ini diperoleh ketika Dominikus bersama Uskup Fulk mengikuti Konsili Lateran IV di Roma pada tahun 1215. Sri Paus Innocentius III (1198-1216) berjanji meneguhkan ordo itu apabila Dominikus sudah memiliki suatu aturan hidup membiara yang terbukti ampuh dan sebuah gereja sebagai tempat Misa Kudus dan upacara lainnya. Kedua tuntutan Paus ini akhirnya terpenuhi. Dominikus bersama rekan-rekannya sepakat memilih aturan hidup Santo Agustinus dan menyusun konstitusi ordo mereka. Uskup Fulk mempercayakan gereja Santo Romanus di Tolouse kepada Dominikus. Di samping gereja itu, Dominikus mendirikan rumah biaranya yang pertama.
Kekhasan Ordo Dominikan ini diperkuat oleh suatu pengalaman mistik. Ketika berdoa di Basilik Santo Petrus di Roma, Dominikus mengalami penglihatan berikut: Santo Petrus dan Paulus mendatangi Dominikus. Petrus menyerahkan kepadanya sebuah kunci, dan Paulus memberinya sebuah buku. Kepadanya Petrus dan Paulus berkata: "Pergilah dan wartakanlah Injil, karena engkau telah ditentukan Allah untuk misi pelayanan itu". Kecuali itu, dalam penglihatan itu pun Dominikus menyaksikan para imamnya mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Di Prancis Selatan sendiri, karya pewartaan itu sulit sekali dilaksanakan karena kerusuhan politik dan militer. Karena itu, Dominikus memutuskan untuk mewartakan Injil di wilayah Eropa lainnya seperti Spanyol dan Paris sembil tetap menggalakkan pewartaan di Tolouse dan Prouille. Dari wilayah-wilayah itu, Dominikus mulai melancarkan misi universal ordonya ke berbagai daerah.
Untuk mempertegas ciri khas ordonya, Dominikus mengundang imam-imamnya untuk membicarakan berbagai hal penting seperti pendidikan para imam Dominikan, kegiatan pewartaan, kepemimpinan ordo dan penghayatan kaul kemiskinan. Oleh imam-imamnya, Dominikus sendiri diangkat sebagai pemimpin ordo pertama. Ia pun diangkat sebagai pemimpin misi kePausan di Lombardia tatkala umat di wilayah itu diresahkan oleh ajaran sesat. Bersama Kardinal Egolino, Dominikus melancarkan perlawanan gencar terhadap berbagai ajaran sesat. Pekerjaan di Lombardia sangat menguras tenaganya.
Dominikus meninggal dunia di Bologna pada tanggal 6 Agustus 1221 setelah menderita sakit keras. Kesucian Dominikus sungguh luar biasa. Ia seorang pendoa yang merasakan benar makna kehadiran Allah. Tentang dirinya, rekan-rekannya berkata: "Ia terus berbicara dengan Tuhan dan tentang Tuhan; siang hari ia bekerja bagi sesamanya, dan malam hari ia berkontak dengan Tuhan". Sebelum meninggal ia berpesan: "Tetaplah teguh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!" 

Santo Siriakus, Largus dan Smaragdus, Martir
Siriakus adalah seorang diakon di kota Roma. Ia ditugaskan melayani orang-orang miskin dan orang-orang serani yang dihukum kerja paksa. Dalam melaksanakan tugas ini, ia dibantu oleh dua orang rekannya, Largus dan Smaragdus. Pada suatu hari mereka ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi kemudian mereka dilepaskan lagi karena Siriakus menyebuhkan anak Kaisar Diokletianus.
Ketika Kaisar Maksimianus naik tahkta, Siriakus dengan kedua temannya ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman mati karena tidak besedia meninggalkan imannya. Jenazah mereka dikuburkan di pinggir jalan ke Ostia. 

Santo Hormisdas, Martir
Pada masa kejayaan Kerajaan Sasanid di Persia selama 4 abad, seni dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Demikian juga agama yang dijadikan agama nasional yang sangat berkembang, sedangkan agama Kristen dihambat sedapat mungkin. Pada abad ketiga, Raja Bahram mengalahkan Chosroes II dan dengan kejam melancarkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Raja ini suka mengorbankan manusia. Untuk itu ia tidak segan-segan memilih korbannya di antara orang-orang Kristen. Hormisdas menjadi salah satu orang pilihan untuk dijadikan korban persembahan.
Ia adalah bangsawan turunan raja dari dinasti Achemenid. Sesudah disuruh datang ke istana, ia dipaksa meninggalkan imannya dan memeluk agama nasional. Sebagai seorang pangeran yang berani, Hormisdas menjawab: "Jikalau aku lakukan apa yang engkau perintahkan, maka aku menghina Tuhanku dan melanggar hukumNya. Siapa pun saja yang tidak mematuhi perintah-perintah Tuhan, tentu saja kesetiaannya kepada raja akan kendor, karena raja adalah seorang manusia biasa. Jika orang yang melanggar perintah raja dijatuhi hukuman mati, bagaimana nasib manusia yang berani melawan Allah?"
Mendengar kata-kata Hormisdas ini, raja naik darah dan menyuruh membelenggu Hormisdas. Harta miliknya disita. Ia ditugaskan menjaga kuda-kuda perang dan membersihkan kadang kuda itu. Meskipun mengalami penderitaan hebat, Hormisdas tidak bersedia menyangkali imannya. Oleh karena itu, ia dihukum mati.

Renungan Jumat, 08 Agustus 2014: Menyangkal Diri

Menjadi orang baik dan benar itu gampang-gampang susah. Saya sendiri sering menghadapi dilema saat harus menjadi baik, entah karena keinginan sendiri atau tuntutan orang sekitar. Kualitas orang baik secara umum antara lain: rendah hati, jujur, sabar, pemaaf, suka menolong, rajin bekerja, dan tekun berdoa. Semua kualitas itu akan berbuah kasih dan kebaikan jika mengakar dalam hidup sehari-hari.

Pada saat godaan menyerang, kita harus berani menyangkal diri. Artinya kita mau menolak atau melawan ke cenderungan nafsu duniawi dan egoisme dalam diri. Penyangkalan diri membutuhkan penguasaan diri yang kuat. Contoh sederhana, menyisihkan uang untuk disumbangkan kepada fakir miskin. Atau, bila kita biasanya malas ikut kegiatan Gereja, cobalah untuk mulai terlibat minimal satu kegiatan menggereja seperti pendalaman Kitab Suci. Dengan begitu, kita semakin mengenal dan dekat dengan Tuhan. Kita pun bisa menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesama dimulai dari keluarga sendiri.

Santo Dominikus berpesan: “Tetaplah penuh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!” Apakah kita berani menyangkal diri dan menjadi pewarta Kabar Gembira di lingkungan tempat tinggal kita?

Theresia Vita Prodeita

Bacaan Injil, Jumat 08 Agustus 2014: Mat16:24-28

Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Mat 16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Mat 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Mat 16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Mat 16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Kamis, 07 Agustus 2014

Pesta Santo Santa, Kamis 7 Agustus 2014

Santo Sixtus II, Paus dan Martir
Sixtus II, dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Santo Stefanus pada tanggal 30 Agustus 257. Setahun kemudian pada tanggal 6 Agustus 258, ketika sedang mengadakan ibadat di makam para martir Preatextatus, ia ditangkap dan langsung dipenggal kepalanya di tempat itu juga. Bersama dengan dia, dibunuh juga diakon Santo Felisisimus dan Santo Agapitus. Beberapa hari kemudian Santo Laurensius mengalami hal yang sama.
Pembunuhan dilakukan sehubungan dengan penolakan Paus Sixtus dan rekan-rekannya itu terhadap hukum yang dikeluarkan oleh Kaisar Valerianus. Tak ada cerita yang diketahui perihal asal usul dan kisah hidup Sixtus, kecuali bahwa selama masa kePausannya pertentangan dengan Gereja-gereja Afrika dan Asia Kecil perihal permandian kembali orang-orang heretik terus berlanjut. Sixtus berpendirian bahwa orang-orang heretik itu tidak perlu dipermandikan ulang; sedangkan para pemimpin Gereja-gereja Afrika dan Asia Kecil mengharuskan permandian ulang orang-orang heretik ini. 

Santa Afra, Martir
Afra menjalani kehidupannya di Augsburg, Jerman Barat sekitar tahun 300. Ia dikenal sebagai seorang bekas pelacur yang bertobat dan menjadi wanita Kristen yang giat dan penuh semangat dalam penghayatan iman Kristen. Bagi kita, Afra memberikan suatu teladan tobat yang luar biasa dan kepercayaan penuh akan kerahiman Tuhan.
Keinsyafannya akan keberdosaan dirinya hingga ia bertobat didorong oleh kesaksian saudara-saudaranya seiman sewaktu dianiaya karena imannya. Semua harta miliknya yang diperoleh dengan cara aib itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dengan penuh ketulusan. Kecuali itu ia bahkan menjadi seorang wanita Kristen yang giat dalam menghayati imannya.
Kegiatan-kegiatannya menyebabkan dia kemudian ditangkap dan dipaksa mempersembahkan kurban bakaran kepada dewa-dewa kafir. Kepada hakim yang memaksanya untuk membawakan kurban itu, Afra dengan tegas berkata: "Hidup masa laluku memang tidaklah baik menurut iman Kristiani, namun sekarang aku mau menjalani hidupku sebagai seorang Kristen sejati. Aku berani mencuci dosa-dosaku dengan daraku sendiri". Hakim itu coba membujuknya dengan berdalih bahwa ia sendiri seorang Kristen yang berusaha membantu menyelamatkannya dari bahaya pembunuhan. "Bagaimana engkau tahu bahwa engkau sudah diterima dan diampuni oleh Tuhanmu?", tanya hakim itu. Kata Afra: "Aku tahu karena aku sekarang diperkenankan memberikan kesaksian atas imanku di hadapan orang banyak."
Keberanian menentang hakim mengakibatkan dia dihukum mati. Ia diikat dan dibawa ke sebuah pulau kecil di tengah Sungai Lech, dan disana ia dibakar hidup-hidup oleh para algojo. Sementara api menjilat tubuhnya yang suci itu, ia berdoa dengan nyaring: "Tuhan Yesus, terimalah tapa sengsaraku ini dan selamatkanlah aku demi api ini dari api sengsara yang kekal." Afra meninggal pada tahun 340. Ibunya bersama tiga orang pelayannya memungut sisa-sisa tulangnya dan memakamkannya dengan penuh hormat. Karena hal ini kemudian diketahui oleh para penguasa, ibunya dan tiga orang pelayan itu ditangkap dan dibunuh juga. 

Santo Kayetanus, Pengaku Iman
Orang Kudus ini sungguh dikenal luas karena jasa-jasanya untuk Gereja Kristus dalam tugasnya sebagai uskup di Tiene, Italia. Hingga sekarang, namanya terus harum di kalangan umat Kristen Italia.
Kayetanus lahir di Vicenza, dekat Venesia pada tahun 1480. Pada umur 24 tahun, ia mendapat gelar Doktor dalam ilmu hukum. Ia bekerja di Roma untuk beberapa tahun, kemudian diangkat sebagai Senator di kota kelahirannya.
Ketika menginjak usia 36 tahun pada tahun 1516, Kayetanus ditabhiskan menjadi imam. Sejak saat itu, ia bertekad mengabdikan dirinya kepada Tuhan dan sesamanya. Ia mengarahkan perhatiannya kapada orang-orang miskin dan sakit serta yang sudah lama menjauhkan diri dari Gereja. Didukung oleh doa-doanya, Kayetanus melaksanakan tugas pengabdiannya dengan penuh semangat. Bersama dengan Carafa, yang kemudian menjadi Paus Paulus V (1605-1621), Kayetanus berjuang memperbaiki tertib hidup Gereja. Untuk mencapai apa yang diinginkan, Kayetanus bersama Carafa memberi kesaksian hidup yang baik untuk mempengaruhi orang lain ke jalan yang baik. Ia menjadi anggota perkumpulan "Oratorium Kasih Ilahi" yang mengabdikan diri dalam karya-karya amal kasih. Anggota perkumpulan ini berasal dari golongan masyarakat bawah yang mempunyai semangat juang yang tinggi.
Keluarganya yang bangsawan itu merasa dihina oleh anaknya sendiri karena hubungannya dengan orang-orang sederhana itu. Tetapi hal itu tidak dipedulikannya karena semangatnya untuk mengabdi sesama. Ia bahkan semakin aktif dalam berbagai kegiatan amal. Ia mendirikan rumah-rumah sakit dan lembaga-lembaga amal lain yang bermaksud menolong banyak orang lain terutama yang miskin. Jasanya yang paling menonjol ialah bahwa ia melancarkan tindakan-tindakan praktis untuk memperbaiki taraf hidup rohani dan keilmuan para imam sekulir. Bersama dengan sahabatnya Carafa yang telah menjadi Uskup Teatum, Kayetanus mendirikan Tarekat Imam-imam Regulir, yang dikenal dengan nama Tarekat Teatin. Anggota-anggota tarekat ini menjalani hidupnya seperti imam-imam Praja untuk membuktikan bahwa kesucian imamat dapat dicapai di luar kehidupan membiara. Penghayatan kemiskinan sungguh luar biasa. Mereka tidak diperkenankan meminta derma atau barang kebutuhan lainnya dari orang lain. Kepercayaan mereka ini sering dibalas Tuhan dengan tanda-tanda mukzijat luar biasa. Salah satu mukzijat yang biasa terjadi adalah mukzijat tersedianya makanan di depan pintu rumah mereka apabila mereka kehabisan makanan pada hari itu.
Rumah pertama tarekat ini dibangun di kota Roma. Dari rumah ini, Kayetanus bersama rekan-rekannya melancarkan karya mereka untuk menolong orang-orang miskin dan sakit di kota Roma. Mereka tekun sekali mewartakan Injil, merayakan Sakramen-sakramen. Karena kegiatan-kegiatan rohani ini, Kayetanus dijuluki "Pemburu Jiwa". Setelah karya mereka berjalan tiga tahun, kota Roma diserang dan dijarah oleh pasukan Kaisar Karel V. Berkat pertolongan Ilahi para Teatin dapat lolos dari bahaya maut itu. Mereka dapat meloloskan diri ke Venesia. Di Venesia mereka sangat berjasa terlebih karena kota itu tertimpa wabah penyakit menular. Kayetanus bersama rekan-rekannya dengan tekun merawat semua orang sakit. Atas permintaan Sri Paus, Kayetanus berkerja di Napoli. Di sini ia mencurahkan seluruh tenaganya demi kepentingan jiwa-jiwa selama 17 tahun hingga wafatnya pada tahun 1547 dengan cara penyaliban mistik seperti Yesus Kristus.
Tahun-tahun terakhir hidupnya merupakan tahun yang penuh keakraban dengan Tuhan dalam doa dan tapa. Ia memajukan devosi kepada Kanak-kanak Yesus di kandang Betlehem. Setiap hari, berjam-jam lamanya ia berdoa di hadapan Sakramen MahaKudus untuk memohon pengampunan bagi jiwa-jiwa yang berdosa. Kayetanus meninggalkan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan rohani. Ia menjadi perintis jalan bagi banyak orang kudus dikemudian hari, misalnya Santo Filipus Neri, Santo Fransiskus dari Sales, Santo Vinsensius, Santo Karolus Boromeus yang hidup pada abad ke-16, abad kegelapan Gereja.