Kita semua pasti memiliki orang tua papa dan mama.Orang tua merupakan sumber awal kita belajar untuk mengenal dunia luar untuk kedewasaan kita.Tetapi pasti kita pernah memiliki masalah dengan orang tua mungkin ketika seperti hal kecil misalnya kita pulang malam bakal diomelin dan akhirnya omelan tersebut masuk ke dalam hati sampai menyimpan dendam.Teman-temanku janganlah engkau menyimpan dendam kepada orang tuamu.Mereka mempunyai maksud yang baik untuk kita semua.Mungkin kita sekarang menganggap orang tua itu tidak penting dan juga kalian berpikir bahwa orang tua kita hanya mengganggu hidup kita.Ubahlah cara pikirmu itu bagi yang menganggap orang tua seperti itu.Coba bayangkan bila kalian sudah menjadi orang tua kemudian dianggap seperti itu pasti perasaan kita akan tersakiti.Aku menulis ini karena dulu aku juga punya pikiran seperti itu di saat hidupku belum terlalu dekat dengan Tuhan.Aku sering membantah perkataan orang tua,marah-marah dengan orang tua,dan aku juga sempat ingin orang tuaku tidak ada tetapi akhirnya sekarang kusadari bahwa orang tua adalah orang yang paling hebat daripada teman-teman kita,pacar,guru,dll.Sekarang aku ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada orang tuaku yang telah merawat aku hingga sekarang,berkoban demi aku,membiayai sekolahku pula,dan masih banyak lagi.Mereka dengan ikhlas tanpa memaksa kita membayar kembali atas jasa-jasa mereka.Aku bersyukur karena bisa mempunyai orang tua.Bagi kalian yang masih mempunyai orang tua kalian harusnya sangat bersyukur.Mari kita menjadi anak Tuhan yang baik selalu menghormati orang tua.Maka hidup menjadi indah dan dapat membahagiakan sesama kita.
Semoga bermanfaat dan berguna.Tuhan memberkati :D
Father Mother they're da real MVP
yang mempunyai pengalaman tentang orang tua atau mau menanggapi bisa komen di kolom komentar tidak usah malu-malu hehehe...
Jujur saat kumengetik ini rasanya mau nangis :'(
Rabu, 06 Agustus 2014
Is That You...??
Special thanks to : Dhewa Malessy for the video
Pesta Santo Santa, Rabu 06 Agustus 2014
Gunung Tabor disebut Gunung Kemuliaan karena di atas gunung itulah Yesus menampakkan KemulianNya kepada Petrus, Yohanes dan Yakobus. Di depan mata ketiga rasul itu, Yesus berubah: "...WajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang" (Mat17:2). Kemuliaan Yesus sebagai Putera Allah itu diperkuat oleh kehadiran dua orang nabi besar Perjanjian Lama, Musa dan Elia.
Transfigurasi atau perubahan rupa Yesus dimaksudkan untuk meneguhkan hati ketiga rasul inti itu agar mereka tidak goyah imannya apabila menyaksikan kesengsaraan Yesus nanti. Tranfigurasi ini pun menjadi tonggak penghiburan bagi para rasul di saat-saat mereka mengalami kesengsaraan dan kesulitan dan menjadi jaminan kemuliaan dan kebahagiaan yang akan mereka alami di surga, sebagaimana telah dijanjikan Yesus: "Pada waktu itu orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerjaan Bapa mereka...."(Mat13:43).
Kebahagiaan terbesar yang dialami para Rasul di atas gunung itu menjadi tanda kepada kita tentang kebahagiaan surgawi yang akan dianugerahkan Allah kepada semua orang beriman. Santo Paulus melukiskan kebahagiaan itu dengan berkata: "Apa yang tidak dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1Kor2:9). Pesta ini sudah jauh lebih dahulu dirayakan di kalangan Gereja Timur. Sedangkan untuk seluruh Gereja di seantero dunia, pesta ini baru ditetapkan perayaannya secara resmi pada tahun 1457, untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan atas kemenangan Pasukan Kristen terhadap serangan tentara Turki di Belgrado.
Santo Herman(us), Pengaku Iman
Herman(us) yang lahir pada tahun 1110 adalah seorang berkebangsaan Yahudi. Ia dipermandikan pada usia 21 tahun di kota Koln, Jerman Barat. Kemudian ia menjadi biarawan dan pemimpin biara yang baik. Ia meninggal dunia pada tahun 1173.
Renungan Rabu, 06 Agustus 2014: Berani Turun
Sebelum menampakkan kemuliaan- Nya, Yesus memberitahu para murid tentang penderitaan yang harus Ia tanggung di Yerusalem. Kemudian dalam per jalanan, Ia mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di sana Yesus menampakkan kemuliaan- Nya.
Kehadiran dua tokoh Perjanjian Lama (Musa dan Elia) menjadi tanda bahwa perjanjian antara Allah dengan umat- Nya terus berlanjut melalui Yesus. Suara Allah dari langit merupakan pengesahan kedua setelah peristiwa pembaptisan (Mat 3:16-17) bahwa Yesuslah puncak pemenuhan janji Allah. Tetapi pada Iman Menuntut Aksi Nyata catholicreligion teacher.com Theresia Vita Prodeita Mahasiswi Program Master Teologi Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta saat itu, ketiga rasul belum mengerti bahwa jalan untuk memenuhi janji penebusan umat manusia harus melalui penderitaan di Yerusalem. Petrus malah ingin mendirikan kemah supaya dapat berlama-lama dalam kenyamanan dan kemuliaan di atas gunung.
Refleksi atas peristiwa mulia ini menunjuk pada perjalanan hidup manusia. Ada saat di mana manusia beroleh kepuasan dan kedamaian, baik secara fisik maupun rohani. Sayangnya, manusia cenderung cepat berpuas diri dengan keberhasilan. Hal ini membuat banyak orang sulit keluar dari zona nyaman. Kita di tantang untuk berani turun dan keluar dari zona nyaman demi melanjutkan pemenuhan janji keselamatan dari Allah. Beranikah kita terjun langsung menolong sesama yang menderita?
Theresia Vita Prodeita
Bacaan Injil, Rabu 06 Agustus 2014: Mat 17:1-9
Mat 17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
Mat 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Mat 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Mat 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Mat 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Mat 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
Mat 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
Mat 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
Mat 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)


