keyblade cursor

Keyblade

Minggu, 10 Agustus 2014

Pesta Santo Santa, 10 Agustus 2014

Santo Laurensius, Martir
Laurensius termasuk salah satu dari ketujuh diakon agung yang bekerja membantu Sri Paus di Roma. Oleh Paus Sixtus II (257-258), Laurensius ditugaskan mengurus harta kekayaan Gereja dan membagi-bagikan derma kepada para fakir miskin di seluruh kota Roma. Ia juga melayani Sri Paus dalam setiap upacara keagamaan. Ketika Sri Paus Sixtus II ditangkap oleh serdadu-serdadu Romawi, Laurensius bertekad menemani dia sampai kematiannya. Kepada Paus, ia berkata: "Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya." Sixtus terharu mendengar kata-kata Laurensius itu. Lalu ia berkata: "Janganlah sedih dan menangis, anakku! Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi".
Ramalan Sixtus itu ternyata benar-benar terjadi. Prefek kota Roma, yang tahu bahwa Gereja mempunyai sejumlah besar kekayaan, mendapat laporan bahwa Laurensius-lah yang mengurus semua kekayaan itu. Karena itu, Laurensius dihadapkan kepada penguasa Roma itu. Laurensius dibujuk agar secepatnya menyerahkan semua kekayaan Gereja itu kepada penguasa Roma. Dengan tenang Laurensius menjawab: "Baiklah, tuan! Dalam waktu tiga hari akan kuserahkan semua kekayaan ini kepadamu". Laurensius dibiarkan kembali ke kediamannya.
Ia segera mengumpulkan orang-orang miskin dan membagi-bagikan kekayaan Gereja kepada mereka. Di bawah pimpinannya, orang-orang miskin itu berarak menuju kediaman Prefek Roma. Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: "Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga. Terimalah dan periharalah mereka dengan sebaik-baiknya."
Tindakan dan kata-kata Laurensius ini dianggap sebagai suatu olokan dan penghinaan terhadap penguasa Roma. Karena itu, ia ditangkap dan dipanggang hidup-hidup di atas terali besi yang panas membara. Laurensius tidak gentar sedikitpun menghadapi hukuman ini. Setelah separuh badannya bagian bawah hangus terbakar, ia meminta supaya badannya dibalik sehingga seluruhnya bisa hangus terbakar. "Sebelah bawah sudah hangus, baliklah badanku agar seluruhnya hangus!" katanya dengan sinis kepada para algojo yang menyiksanya. Laurensius akhirnya menghembuskan nafasnya di atas pemanggangan itu sebagai sekorang ksatria Kristus.
Kisah kemartirannya kita ketahui dari tulisan-tulisan Santo Agustinus. Di sana dikatakan bahwa orang-orang yang berdoa dengan perantaraan Laurensius terkabul doanya. "Karunia-karunia kecil diberikan kepada orang-orang yang berdoa dengan perantaraan Laurensius supaya mereka terdorong untuk memohon karunia yang lebih besar, yaitu cinta kasih kepada sesama dan kesetiaan kepada Kristus" demikian kata Santo Agustinus dalam salah satu tulisannya.

Renungan Minggu 10 Agustus 2014: Kepasrahan Bunda Maria

Ia diangkat dan dipermuliakan di surga karena kepasrahan dan pembaktian hidup seutuhnya pada kehendak dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus, lewat dirinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan pada Allah.

Kesalehan dan kepasrahan Bunda Maria di hadapan Tuhan dikenal banyak orang. Pada peristiwa Kabar Gembira, Maria bernazar pada Malaikat: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Mungkin waktu itu hatinya berbunga-bunga dan kagum akan keajaiban peristiwa yang akan terjadi, seturut kata- kata Malaikat Gabriel. Dengan ungkapan itu, Maria menyatakan ketaqwaan terdalamnya pada Tuhan.

Hati Maria pun diselimuti keheranan. Tiap kali rasa heran singgah, ia selalu berucap: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”. Ada tujuh keheranan Maria.
Pertama, tatkala ia telah mengandung tua dan harus pergi ke Bethlehem untuk cacah jiwa bersama Yosef. Lelah dalam perjalanan jauh dengan keledai, mereka bahkan tak menemukan penginapan, kecuali kandang ternak dan palungan. Ia berkata dalam hati: “Mengapa harus begini?” Namun setelah Tiga Raja bersujud sembah pada Anaknya, spontan ia berucap: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Kedua, saat Yosef mendapat bisikan Tuhan untuk mengungsi ke Mesir, menyelamatkan Anaknya dari kebengisan Herodes. Setelah perjalanan jauh bersama para pedagang dan khalifah, akhirnya mereka menumpang dalam satu rumah, dekat sungai Nil. Suatu sore, Maria spontan berkata di beranda rumahnya: “Yang seperti ini belum pernah kubayangkan”.

Ketiga, sewaktu perkawinan di Kana. Tuan rumah sangat terperanjat, sebab terancam rasa malu karena kehabisan anggur. Maria menyuruh Yesus mengubah air menjadi anggur. Tiba-tiba hal itu terjadi dan membuatnya tercengang. Sambil menggelengkan kepala, ia berkata: “Yang seperti ini, tak pernah kubayangkan”.

Keempat, ketika Yesus dihukum mati dan dipaksa memanggul salib ke Gunung Golgota: Yesus dihina bermahkota duri; Ia terjatuh dan dicambuk. Ia didera dan dipermalukan di depan khalayak. Hati Sang Bunda teriris kepedihan tak terperikan. Timbul dalam hatinya: “Yang seperti ini, tak pernah kubayangkan”.

Kelima, pada peristiwa Paskah. Maria telah menghantar jenazah Putranya ke makam milik Yosef dari Arimatea. Tiba-tiba terdengar berita Yesus bangkit. Akhirnya ia pun bertemu dengan Yesus hatinya: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Keenam, ketika para murid kebingungan dan ketakutan di Yerusalem. Sesudah Yesus naik ke surga, Ia menyuruh para murid berkumpul di Yerusalem menantikan turunnya Roh Kudus. Maria pun berada bersama mereka. Mereka ketakutan terhadap orang Yahudi. Mereka menutup pintu rapat-rapat. Mereka berbisik- bisik, sebab takut orang Yahudi mendengarnya. Kecemasan melingkupi hati mereka. Namun kala Roh Kudus turun atas mereka, semuanya berubah. Mereka sangat bersemangat. Mereka menjadi berani, bahkan naik ke sotoh rumah. Mereka menegur orang Yahudi dan mengatakan bahwa orang Yahudi bersalah karena membunuh Yesus yang tak bersalah. Mereka memerintahkan orang Yahudi bertobat. Hari itu, lebih dari 3.000 orang dibaptis. Maria berkata: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Ketujuh, peristiwa di surga, seturut Kitab Wahyu. Maria dipermuliakan dan dijadikan Ratu Surgawi. Para malaikat dan orang kudus takzim di hadapannya. “Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Why 12:1). Terkesima, Maria lalu berkata: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.

Demikianlah kisah hidup Bunda Maria. Ia diangkat dan dipermuliakan di surga karena kepasrahan dan pembaktian hidup seutuhnya pada kehendak dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus, lewat dirinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan pada Allah.

Jika kita melihat dalam kacamata manusiawi, hidup Maria tak terlalu beruntung. Ia bahkan harus memeluk jenazah Putranya yang rusak dalam pangkuannya sendiri. Betapa hancur hatinya. Namun dalam kepasrahan pada Allah, semua berakhir pada kebahagiaan abadi: berbahagia di surga. Kita pun dapat dan patut meng’ ikuti teladan Bunda Maria ini..

Mgr Anicetus Bongsu Antonius 
Sinaga OFMCap
Uskup Agung Medan

Bacaan Injil, Minggu 10 Agustus 2014: Luk 1:39-56

Luk 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

Luk 1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

Luk 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

Luk 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Luk 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.

Luk 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

Luk 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,

Luk 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

Luk 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,

Luk 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

Luk 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Luk 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

Luk 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;

Luk 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Luk 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

Luk 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."

Luk 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id