keyblade cursor

Keyblade

Jumat, 08 Agustus 2014

Selebriti Katolik di Korea Menciptakan Video Musik Menyambut Paus Fransiskus

Selebriti Katolik di Korea Menciptakan Video Musik Menyambut Paus Fransiskus
Rabu, 9 Juli 2014 
oleh Veroel Taole

Video musik ini dibuat oleh selebriti putera-puteri Gereja Katolik di Korea sebagai gerakan pendahuluan dalam rangka menyambut kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Korea bulan Agustus ini.


Beberapa di antara mereka yang ikut ambil bagian dalam rekaman ini adalah Kim Woo Bin (The Heirs), Kim Tae Hee (Iris), Kim Ha-neul (A Gentleman’s Dignity), dan penyanyi Bada. 

Nemu saat jalan-jalan di beranda Facebook nih keren bisa dinikmati hehehe :D

Soundtrack `Stand By Me Doraemon` Sedih, Resapi Maknanya di Sini

StandByMeDoraemon (1)
Sosok Doraemon yang dikenal sebagai robot kucing masa depan, telah memberi banyak inspirasi bagi seluruh anak-anak dan pecinta manga serta anime di seluruh dunia. Kini, karakter karya Fujiko F. Fujio itu akan muncul di layar lebar melalui film animasi 3D bertajuk Stand By Me Doraemon.
Kehadiran `Stand By Me Doraemon` di bioskop-biokop Jepang, tentunya menjadi harapan besar bagi para penggemar di negara lain, termasuk Indonesia untuk bisa menyaksikan serunya petualangan Doraemon bersamaNobitaShizukaGian, dan Suneo ketika menggunakan alat-alat canggih masa depan milik sang robot kucing itu.
Selain visualisasi dan cerita, salah satu hal yang juga diunggulkan dalam `Stand By Me Doraemon` adalahsoundtrack alias lagu temanya yang memiliki nuansa menyentuh. Berjudul Himawari no Yakusoku, penyanyi priaMotohiro Hata sukses membuat para penggemar Doraemon merasakan nuansa sedih di dalam lagunya.
StandByMeDoraemon (2)
`Himawari no Yakusoku` juga telah dibuatkan videoklipnya. Di situ terlihat Hata sedang bernyanyi dengan suara indahnya sambil membawa gitar dan duduk bersandar di sebuah tembok. Beberapa model yang ada, terlihat melayang di atas kebun bunga matahari.
Uniknya, terdapat sebuah pintu di tengah perkebunan yang seolah menggambarkan salah satu alat canggih Doraemon, Pintu ke Mana Saja (Dokodemo Door). Sosok dua orang tua lanjut usia menyiratkan kita akan perjalanan waktu yang menjadi salah satu kisah inti Doraemon.



Komentar Lirik Lagu di Jejaring Sosial
StandByMeDoraemon (3)
Perpaduan nada, suara, serta lirik lagu Himawari no Yakusoku sempat membuat para penggemar Doraemon yang cukup mengerti bahasa Jepang merasakan nuansa kesedihan.
Beberapa fans menuangkannya di situs YouTube dalam bahasa Inggris. Bahkan, akun Facebook Motohiro Hata di Indonesia, ‘Hata Motohiro – Indonesian Fans’ pun dipenuhi oleh pujian akan lagu ini.
Lagunya sedih, tambah liat nobitanya makin sedih,” ketik pengguna Facebook asal Indonesia berinisial MA melalui komentar di salah satu status. “Merinding dengernya, apalagi digabung sama film Doraemon bakalan tears jerking nih,” tambah pengguna berinisial RM.
Di YouTube, pujian diungkapkan dari pengguna seperti Tatzuar Amir yang mengetik, “Gosh, I’m crying…” Akun bernama Dale Aldrin Maniego juga mengungkapkan, “I just cried >.< I waited for this release for quite a long time.”
Makna Lirik Himawari no Yakusoku
StandByMeDoraemon (4)
`Himawari no Yakusoku` sendiri jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah Janji Bunga Matahari. Lirik yang terkandung di dalamnya mengandung makna cukup menyedihkan dan beberapa kali menyatakan luapan perasaan hati yang mengharukan.
Lirik lagu ini dibuka dengan sebuah pertanyaan dari seseorang karena orang yang disayanginya tiba-tiba menangis. Sang penyanyi merasa tangisan orang yang disayangnya tersebut itu disebabkan oleh dirinya, namun ia tidak mengerti apa penyebabnya.
Kemudian sang penyanyi turut berjanji akan selalu berada di sisi orang yang disayanginya untuk menghiburnya setiap saat. Sehingga jika ia pergi jauh, orang yang disayanginya itulah yang menjadi alasannya untuk pulang.
Lagu ini ditutup dengan bait yang berisi ungkapan sang penyanyi bahwa dirinya sudah menemukan makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Salah satu bait yang diulang dalam lagu ini memiliki arti ‘jalan lurus yang selembut dan sehangat bunga matahari’.
Stand By Me Doraemon
StandByMeDoraemon (2)
`Stand By Me Doraemon` mengisahkan perjuangan Nobita dalam melindungi Shizuka yang disayanginya. Film ini juga turut memperlihatkan alat-alat khas Doraemon seperti Baling-baling Bambu dan Pintu ke Mana saja. Rencananya, film tiga dimensi pertama Doraemon ini akan dirilis pada 8 Agustus 2014.
StandByMeDoraemon (1)
Doraemon pernah tayang di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di sini, anime tersebut mengudara sejak 1988 di salah satu televisi swasta. Versi manga Doraemon pertama kali terbit di Jepang sejak 1973.
Duo Fujiko Fujio (Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko) membuat Doraemon pada 1969. Dalam kisahnya, sang kucing robot Doraemon dikirim oleh anak laki-laki dari masa depan ke masa lalu untuk membantu kakeknya yang masih kecil bernama Nobita.
Doraemon, Nobita, serta anak-anak lain pun menangani masalah sehari-hari dan bahkan menjadi penyebabnya setelah alat-alat masa depan dari dalam kantong ajaib Doraemon dikeluarkan. Mereka lalu memulai petualangan antar ruang dan waktu.
Sumber : http://japanesestation.com/soundtrack-stand-doraemon-sedih-resapi-maknanya-di-sini/

Pesta Santo Santa, 8 Agustus 2014

Santo Dominikus, Pengaku Iman
Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol. Orangtuanya, Don Felix de Guzman dan Joana dari Aza dikenal sebagai bangsawan Kristen yang saleh dan taat agama. Joana ibunya kemudian dinyatakan Gereja sebagai 'beata'; kakaknya, Mannes dan Antonio mencurahkan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja sebagai imam; dua orang keponakannya menjadi imam dalam ordo religius yang didirikannya, Ordo Dominikan. Mannes dikemudian hari digelari 'beato' karena kesucian hidupnya dan pengabdiannya yang tulus kepada Tuhan dan Gereja.
Masa kecil dan mudanya ditandai dengan kesucian dan semangat belajar yang tinggi. Pendidikan awalnya ditangani langsung oleh pamannya yang sudah menjadi imam. Dominikus kemudian melanjutkan studinya ke sekolah Katedral Palencia. Pada umur 24 tahun ia masuk biara di Osma dan tak lama kemudian ditabhiskan menjadi imam. Karier imamatnya dimulai di Osma didukung oleh doa kontemplatif yang sungguh mendalam. Doa kontemplatif ini yang melahirkan cinta yang tulus kepada umatnya. Karya apostoliknya dimulai sejak tahun 1203 ketika aliran bidaah Albigensianisme melancarkan serangan terhadap kebenaran iman Gereja. Waktu itu, Dominikus bersama uskupnya, Diego d'Azevido sedang dalam perjalanan ke Denmark untuk melaksanakan suatu misi diplomatik bagi Raja Alfonso IX (1188-1230).
Albigensianisme, yang lahir pada awal abad ke-13 di kota Albi, Prancis Selatan ini, merongrong ajaran iman yang benar. Aliran ini mengajarkan bahwa segala yang jasmani itu jahat. Ajaran Gereja tentang Tritunggal MahaKudus, peristiwa penjelmaan dan Penebusan umat manusia dalam Pribadi Yesus Kristus diingkarinya; juga semua sakramen, ibadat dan apa saja yang merupakan ungkapan iman Gereja ditolak. Karena sangat fanatik, para penganut aliran sesat ini tanpa segan merusak gereja-gereja dan biara, menghancurkan gambar-gambar kudus dan salib. Segala hubungan antara Gereja dan Negara ditiadakan. Mereka sangat terampil dalam menyebarkan ajarannya sehingga menarik begitu banyak umat menjadi pengikut. Terdorong oleh desakan batin untuk memberantas pengaruh jahat aliran sesat ini, Dominikus mendapat ilham untuk mendirikan sebuah tarekat religius yang lebih memusatkan perhatian pada soal Pewartaan Sabda. Ordo religius Dominikus ini kemudian lazim dikenal dengan nama 'Ordo Praedicatorum' atau 'Ordo para Pengkhotbah'.
Pada pertengahan musim panas pada tahun 1206, seusai urusan diplomatik di Denmark dan kunjungan ke Roma, Dominikus bersama Uskup Diego kembali ke Spanyol. Di Montpellier, Prancis Selatan, mereka bertemu dengan para pengkhotbah utusan Paus yang mulai putus asa dalam mengemban tugas memberantas pengaruh ajaran aliran sesat Albigensianisme. Mereka berniat meninggalkan hidup biaranya karena gagal dalam tugas pewartaannya. Banyak faktor membuat mereka gagal: para bangsawan yang merupakan orang kepercayaan masyarakat sudah mengikuti aliran sesat itu; jumlah imam sangat sedikit dan tidak disiapkang dengan baik dalam hal cara mewartakan Injil, padahal para pewarta ajaran sesat itu sangat terampil dalam menyebarkan ajarannya; faktor kegagalan yang lain datang dari kalangan Uskup Prancis Selatan itu sendiri. Mereka acuh tak acuh terhadap bahaya yang menggoncang ajaran iman yang benar, dan lebih getol dalam hal-hal duniawi.
Menghadapi keputusasaan para utusan Paus, Uskup Diego dan Dominikus menasehati mereka untuk terus mewartakan Injil Kristus meskipun banyak rintangannya. Mereka dinasehati agar meniru teladan para Rasul dalam pewartaan Injil; memasuki pelosok-pelosok dengan berjalan kaki tanpa membawa uang dan makanan, dan bergaul rapat dengan rakyat yang sudah sesat. Diego dan Dominikus dengan setia menemani mereka dalam kegiatan pewartaan itu. Hasil yang dicapai cukup lumayan, meskipun masih ada juga kegagalan. Uskup Diego dan Dominikus serta Uskup Fulk dari Tolouse, Prancis Utara terus mendampingi para pewarta dalam perjuangan besar memberantas pengaruh jahat Albigensianisme.
Pada tahun 1214, Dominikus mendiskusikan bersama rekan-rekannya rencana mendirikan sebuah tarekat religius. Rencana ini didukung dan mulai dilaksanakan tahun berikutnya bersamaan dengan pemberian hadiah sebuah rumah besar oleh Petrus Seila dari Tolouse. Uskup Fulk memberi restunya.
Pandangan hidup yang dianut Ordo Dominikan, yang dikenal dengan nama 'Ordo Predicatorum' atau 'Ordo Pengkhotbah' ini merupakan sesuatu yang belum dikenal pada masa itu. Dominikus menggabungkan corak hidup kontemplatif dengan kehidupan aktif: mewartakan Injil di luar biara, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar dan lain-lain. Misinya sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang baru, karena pada masa itu hal pewartaan adalah tugas khas pada Uskup. Dengan kekhasan ini, Dominikus bermaksud memberikan Gereja suatu Ordo Religius Imam yang berbobot dan handal.
Restu atas berdirinya Ordo Dominikan ini diperoleh ketika Dominikus bersama Uskup Fulk mengikuti Konsili Lateran IV di Roma pada tahun 1215. Sri Paus Innocentius III (1198-1216) berjanji meneguhkan ordo itu apabila Dominikus sudah memiliki suatu aturan hidup membiara yang terbukti ampuh dan sebuah gereja sebagai tempat Misa Kudus dan upacara lainnya. Kedua tuntutan Paus ini akhirnya terpenuhi. Dominikus bersama rekan-rekannya sepakat memilih aturan hidup Santo Agustinus dan menyusun konstitusi ordo mereka. Uskup Fulk mempercayakan gereja Santo Romanus di Tolouse kepada Dominikus. Di samping gereja itu, Dominikus mendirikan rumah biaranya yang pertama.
Kekhasan Ordo Dominikan ini diperkuat oleh suatu pengalaman mistik. Ketika berdoa di Basilik Santo Petrus di Roma, Dominikus mengalami penglihatan berikut: Santo Petrus dan Paulus mendatangi Dominikus. Petrus menyerahkan kepadanya sebuah kunci, dan Paulus memberinya sebuah buku. Kepadanya Petrus dan Paulus berkata: "Pergilah dan wartakanlah Injil, karena engkau telah ditentukan Allah untuk misi pelayanan itu". Kecuali itu, dalam penglihatan itu pun Dominikus menyaksikan para imamnya mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Di Prancis Selatan sendiri, karya pewartaan itu sulit sekali dilaksanakan karena kerusuhan politik dan militer. Karena itu, Dominikus memutuskan untuk mewartakan Injil di wilayah Eropa lainnya seperti Spanyol dan Paris sembil tetap menggalakkan pewartaan di Tolouse dan Prouille. Dari wilayah-wilayah itu, Dominikus mulai melancarkan misi universal ordonya ke berbagai daerah.
Untuk mempertegas ciri khas ordonya, Dominikus mengundang imam-imamnya untuk membicarakan berbagai hal penting seperti pendidikan para imam Dominikan, kegiatan pewartaan, kepemimpinan ordo dan penghayatan kaul kemiskinan. Oleh imam-imamnya, Dominikus sendiri diangkat sebagai pemimpin ordo pertama. Ia pun diangkat sebagai pemimpin misi kePausan di Lombardia tatkala umat di wilayah itu diresahkan oleh ajaran sesat. Bersama Kardinal Egolino, Dominikus melancarkan perlawanan gencar terhadap berbagai ajaran sesat. Pekerjaan di Lombardia sangat menguras tenaganya.
Dominikus meninggal dunia di Bologna pada tanggal 6 Agustus 1221 setelah menderita sakit keras. Kesucian Dominikus sungguh luar biasa. Ia seorang pendoa yang merasakan benar makna kehadiran Allah. Tentang dirinya, rekan-rekannya berkata: "Ia terus berbicara dengan Tuhan dan tentang Tuhan; siang hari ia bekerja bagi sesamanya, dan malam hari ia berkontak dengan Tuhan". Sebelum meninggal ia berpesan: "Tetaplah teguh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!" 

Santo Siriakus, Largus dan Smaragdus, Martir
Siriakus adalah seorang diakon di kota Roma. Ia ditugaskan melayani orang-orang miskin dan orang-orang serani yang dihukum kerja paksa. Dalam melaksanakan tugas ini, ia dibantu oleh dua orang rekannya, Largus dan Smaragdus. Pada suatu hari mereka ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi kemudian mereka dilepaskan lagi karena Siriakus menyebuhkan anak Kaisar Diokletianus.
Ketika Kaisar Maksimianus naik tahkta, Siriakus dengan kedua temannya ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman mati karena tidak besedia meninggalkan imannya. Jenazah mereka dikuburkan di pinggir jalan ke Ostia. 

Santo Hormisdas, Martir
Pada masa kejayaan Kerajaan Sasanid di Persia selama 4 abad, seni dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Demikian juga agama yang dijadikan agama nasional yang sangat berkembang, sedangkan agama Kristen dihambat sedapat mungkin. Pada abad ketiga, Raja Bahram mengalahkan Chosroes II dan dengan kejam melancarkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Raja ini suka mengorbankan manusia. Untuk itu ia tidak segan-segan memilih korbannya di antara orang-orang Kristen. Hormisdas menjadi salah satu orang pilihan untuk dijadikan korban persembahan.
Ia adalah bangsawan turunan raja dari dinasti Achemenid. Sesudah disuruh datang ke istana, ia dipaksa meninggalkan imannya dan memeluk agama nasional. Sebagai seorang pangeran yang berani, Hormisdas menjawab: "Jikalau aku lakukan apa yang engkau perintahkan, maka aku menghina Tuhanku dan melanggar hukumNya. Siapa pun saja yang tidak mematuhi perintah-perintah Tuhan, tentu saja kesetiaannya kepada raja akan kendor, karena raja adalah seorang manusia biasa. Jika orang yang melanggar perintah raja dijatuhi hukuman mati, bagaimana nasib manusia yang berani melawan Allah?"
Mendengar kata-kata Hormisdas ini, raja naik darah dan menyuruh membelenggu Hormisdas. Harta miliknya disita. Ia ditugaskan menjaga kuda-kuda perang dan membersihkan kadang kuda itu. Meskipun mengalami penderitaan hebat, Hormisdas tidak bersedia menyangkali imannya. Oleh karena itu, ia dihukum mati.

Renungan Jumat, 08 Agustus 2014: Menyangkal Diri

Menjadi orang baik dan benar itu gampang-gampang susah. Saya sendiri sering menghadapi dilema saat harus menjadi baik, entah karena keinginan sendiri atau tuntutan orang sekitar. Kualitas orang baik secara umum antara lain: rendah hati, jujur, sabar, pemaaf, suka menolong, rajin bekerja, dan tekun berdoa. Semua kualitas itu akan berbuah kasih dan kebaikan jika mengakar dalam hidup sehari-hari.

Pada saat godaan menyerang, kita harus berani menyangkal diri. Artinya kita mau menolak atau melawan ke cenderungan nafsu duniawi dan egoisme dalam diri. Penyangkalan diri membutuhkan penguasaan diri yang kuat. Contoh sederhana, menyisihkan uang untuk disumbangkan kepada fakir miskin. Atau, bila kita biasanya malas ikut kegiatan Gereja, cobalah untuk mulai terlibat minimal satu kegiatan menggereja seperti pendalaman Kitab Suci. Dengan begitu, kita semakin mengenal dan dekat dengan Tuhan. Kita pun bisa menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesama dimulai dari keluarga sendiri.

Santo Dominikus berpesan: “Tetaplah penuh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!” Apakah kita berani menyangkal diri dan menjadi pewarta Kabar Gembira di lingkungan tempat tinggal kita?

Theresia Vita Prodeita

Bacaan Injil, Jumat 08 Agustus 2014: Mat16:24-28

Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Mat 16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Mat 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Mat 16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Mat 16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Kamis, 07 Agustus 2014

Pesta Santo Santa, Kamis 7 Agustus 2014

Santo Sixtus II, Paus dan Martir
Sixtus II, dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Santo Stefanus pada tanggal 30 Agustus 257. Setahun kemudian pada tanggal 6 Agustus 258, ketika sedang mengadakan ibadat di makam para martir Preatextatus, ia ditangkap dan langsung dipenggal kepalanya di tempat itu juga. Bersama dengan dia, dibunuh juga diakon Santo Felisisimus dan Santo Agapitus. Beberapa hari kemudian Santo Laurensius mengalami hal yang sama.
Pembunuhan dilakukan sehubungan dengan penolakan Paus Sixtus dan rekan-rekannya itu terhadap hukum yang dikeluarkan oleh Kaisar Valerianus. Tak ada cerita yang diketahui perihal asal usul dan kisah hidup Sixtus, kecuali bahwa selama masa kePausannya pertentangan dengan Gereja-gereja Afrika dan Asia Kecil perihal permandian kembali orang-orang heretik terus berlanjut. Sixtus berpendirian bahwa orang-orang heretik itu tidak perlu dipermandikan ulang; sedangkan para pemimpin Gereja-gereja Afrika dan Asia Kecil mengharuskan permandian ulang orang-orang heretik ini. 

Santa Afra, Martir
Afra menjalani kehidupannya di Augsburg, Jerman Barat sekitar tahun 300. Ia dikenal sebagai seorang bekas pelacur yang bertobat dan menjadi wanita Kristen yang giat dan penuh semangat dalam penghayatan iman Kristen. Bagi kita, Afra memberikan suatu teladan tobat yang luar biasa dan kepercayaan penuh akan kerahiman Tuhan.
Keinsyafannya akan keberdosaan dirinya hingga ia bertobat didorong oleh kesaksian saudara-saudaranya seiman sewaktu dianiaya karena imannya. Semua harta miliknya yang diperoleh dengan cara aib itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dengan penuh ketulusan. Kecuali itu ia bahkan menjadi seorang wanita Kristen yang giat dalam menghayati imannya.
Kegiatan-kegiatannya menyebabkan dia kemudian ditangkap dan dipaksa mempersembahkan kurban bakaran kepada dewa-dewa kafir. Kepada hakim yang memaksanya untuk membawakan kurban itu, Afra dengan tegas berkata: "Hidup masa laluku memang tidaklah baik menurut iman Kristiani, namun sekarang aku mau menjalani hidupku sebagai seorang Kristen sejati. Aku berani mencuci dosa-dosaku dengan daraku sendiri". Hakim itu coba membujuknya dengan berdalih bahwa ia sendiri seorang Kristen yang berusaha membantu menyelamatkannya dari bahaya pembunuhan. "Bagaimana engkau tahu bahwa engkau sudah diterima dan diampuni oleh Tuhanmu?", tanya hakim itu. Kata Afra: "Aku tahu karena aku sekarang diperkenankan memberikan kesaksian atas imanku di hadapan orang banyak."
Keberanian menentang hakim mengakibatkan dia dihukum mati. Ia diikat dan dibawa ke sebuah pulau kecil di tengah Sungai Lech, dan disana ia dibakar hidup-hidup oleh para algojo. Sementara api menjilat tubuhnya yang suci itu, ia berdoa dengan nyaring: "Tuhan Yesus, terimalah tapa sengsaraku ini dan selamatkanlah aku demi api ini dari api sengsara yang kekal." Afra meninggal pada tahun 340. Ibunya bersama tiga orang pelayannya memungut sisa-sisa tulangnya dan memakamkannya dengan penuh hormat. Karena hal ini kemudian diketahui oleh para penguasa, ibunya dan tiga orang pelayan itu ditangkap dan dibunuh juga. 

Santo Kayetanus, Pengaku Iman
Orang Kudus ini sungguh dikenal luas karena jasa-jasanya untuk Gereja Kristus dalam tugasnya sebagai uskup di Tiene, Italia. Hingga sekarang, namanya terus harum di kalangan umat Kristen Italia.
Kayetanus lahir di Vicenza, dekat Venesia pada tahun 1480. Pada umur 24 tahun, ia mendapat gelar Doktor dalam ilmu hukum. Ia bekerja di Roma untuk beberapa tahun, kemudian diangkat sebagai Senator di kota kelahirannya.
Ketika menginjak usia 36 tahun pada tahun 1516, Kayetanus ditabhiskan menjadi imam. Sejak saat itu, ia bertekad mengabdikan dirinya kepada Tuhan dan sesamanya. Ia mengarahkan perhatiannya kapada orang-orang miskin dan sakit serta yang sudah lama menjauhkan diri dari Gereja. Didukung oleh doa-doanya, Kayetanus melaksanakan tugas pengabdiannya dengan penuh semangat. Bersama dengan Carafa, yang kemudian menjadi Paus Paulus V (1605-1621), Kayetanus berjuang memperbaiki tertib hidup Gereja. Untuk mencapai apa yang diinginkan, Kayetanus bersama Carafa memberi kesaksian hidup yang baik untuk mempengaruhi orang lain ke jalan yang baik. Ia menjadi anggota perkumpulan "Oratorium Kasih Ilahi" yang mengabdikan diri dalam karya-karya amal kasih. Anggota perkumpulan ini berasal dari golongan masyarakat bawah yang mempunyai semangat juang yang tinggi.
Keluarganya yang bangsawan itu merasa dihina oleh anaknya sendiri karena hubungannya dengan orang-orang sederhana itu. Tetapi hal itu tidak dipedulikannya karena semangatnya untuk mengabdi sesama. Ia bahkan semakin aktif dalam berbagai kegiatan amal. Ia mendirikan rumah-rumah sakit dan lembaga-lembaga amal lain yang bermaksud menolong banyak orang lain terutama yang miskin. Jasanya yang paling menonjol ialah bahwa ia melancarkan tindakan-tindakan praktis untuk memperbaiki taraf hidup rohani dan keilmuan para imam sekulir. Bersama dengan sahabatnya Carafa yang telah menjadi Uskup Teatum, Kayetanus mendirikan Tarekat Imam-imam Regulir, yang dikenal dengan nama Tarekat Teatin. Anggota-anggota tarekat ini menjalani hidupnya seperti imam-imam Praja untuk membuktikan bahwa kesucian imamat dapat dicapai di luar kehidupan membiara. Penghayatan kemiskinan sungguh luar biasa. Mereka tidak diperkenankan meminta derma atau barang kebutuhan lainnya dari orang lain. Kepercayaan mereka ini sering dibalas Tuhan dengan tanda-tanda mukzijat luar biasa. Salah satu mukzijat yang biasa terjadi adalah mukzijat tersedianya makanan di depan pintu rumah mereka apabila mereka kehabisan makanan pada hari itu.
Rumah pertama tarekat ini dibangun di kota Roma. Dari rumah ini, Kayetanus bersama rekan-rekannya melancarkan karya mereka untuk menolong orang-orang miskin dan sakit di kota Roma. Mereka tekun sekali mewartakan Injil, merayakan Sakramen-sakramen. Karena kegiatan-kegiatan rohani ini, Kayetanus dijuluki "Pemburu Jiwa". Setelah karya mereka berjalan tiga tahun, kota Roma diserang dan dijarah oleh pasukan Kaisar Karel V. Berkat pertolongan Ilahi para Teatin dapat lolos dari bahaya maut itu. Mereka dapat meloloskan diri ke Venesia. Di Venesia mereka sangat berjasa terlebih karena kota itu tertimpa wabah penyakit menular. Kayetanus bersama rekan-rekannya dengan tekun merawat semua orang sakit. Atas permintaan Sri Paus, Kayetanus berkerja di Napoli. Di sini ia mencurahkan seluruh tenaganya demi kepentingan jiwa-jiwa selama 17 tahun hingga wafatnya pada tahun 1547 dengan cara penyaliban mistik seperti Yesus Kristus.
Tahun-tahun terakhir hidupnya merupakan tahun yang penuh keakraban dengan Tuhan dalam doa dan tapa. Ia memajukan devosi kepada Kanak-kanak Yesus di kandang Betlehem. Setiap hari, berjam-jam lamanya ia berdoa di hadapan Sakramen MahaKudus untuk memohon pengampunan bagi jiwa-jiwa yang berdosa. Kayetanus meninggalkan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan rohani. Ia menjadi perintis jalan bagi banyak orang kudus dikemudian hari, misalnya Santo Filipus Neri, Santo Fransiskus dari Sales, Santo Vinsensius, Santo Karolus Boromeus yang hidup pada abad ke-16, abad kegelapan Gereja.

Renungan Kamis, 07 Agustus 2014: Kehendak Bapa

Dalam perjalanan hidupnya, manusia belajar membedakan mana yang benar dan salah. Manusia juga dipanggil untuk melakukan apa yang baik dan benar sesuai kehendak Tuhan. Semua itu karena Tuhan telah menaruh hukum-Nya dalam batin setiap manusia (Yer 31:33). Ia menuliskannya dalam hati manusia se hingga manusia mengenal Tuhan. Inilah awal perjanjian baru yang diadakan Allah dengan umat Israel. Di kemudian hari, Yesus memperbaruinya kepada seluruh umat manusia.

Yesus datang ke dunia sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16). Petrus mendapat karunia untuk mengenali siapa sesungguhnya Yesus. Allah Bapa telah menyatakan hal itu kepada Petrus supaya ia dapat menjadi dasar berdirinya Gereja. Meski pada awalnya Petrus kurang siap dan takut kehilangan Yesus, namun ia di tegur oleh Yesus supaya tidak jatuh dalam ketakutan semu dari iblis. Yesus menginginkan Petrus berani menjadi batu karang yang teguh membangun Kerajaan Allah sesuai kehendak Bapa.

Kita pun seperti Petrus, kadang kita takut tampil sendiri untuk mewartakan Injil. Padahal, kita sudah memiliki cukup bekal yaitu hukum Tuhan yang tertulis di hati kita. Kita dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah dan membawa lebih banyak orang kepada keselamatan meski sendirian. Percayalah, dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat bersaksi dengan berani melalui cara hidup kita. Asalkan kita selalu menyediakan diri untuk mendengarkan kehendak Bapa.

Theresia Vita Prodeita